Akhirnya………..


Ahirnya……. segalanya kan berahir kecuali Alloh yang Tiada Berahir. Kalender pun boleh berahir tapi semangat impian dan cita-cita atw kerjaan masih saja tak berahir.
Alhamdulilah di penghujung tahun ini baik tahun hijriyah atw masehi semuanya ada dalam keadaan baik-baik saja. Segala kekurangan mesti diterima lapang dada. Dan Semoga tahun depan situasi semakin membaik; kezaliman berkurang manipulasi diminimkan. Perangkat desa semuanya dapat menerima honor gaji atw sebutan lain yang sesuai dengan kebutuhan hidup; tak apa di bawah UMR pun asal mencukupi hidup selayaknya manusia rakyat di Indonesia.
Kami memahami bahwa Pemerintah RI baru bisa mengaji aparaturnya hanya sampai sebatas tingkat Kecamatan. Nampaknya (dugaan) kami Pemerintah belum sanggup menggaji perangkat Desa yang begitu “ruyeg” bertebaran di pulau-pulau Indonesia. Berapa T yang harus dikeluarkan Pemerintah jika perangkat Desa digaji? Dan berapa T pula uang Pemerintah yang di telan Bank Century. ( Ingat T ingat Bank Century).
Akhirnya….. kami perlu bersyukur bahwa Kepala Desa (Kades) mulai tahun 2009 sudah mulai menerima gaji bulanan Rp. 1.500.000 yang dibayarkan tiap tri wulan sekali. Kami (perangkat di bawahnya) hanya mendengar tanggal sekian para kades mengambil gaji di Kabupaten. Ya…Alhamdulilah ….. baru Kades duluan.
Akhirnya …… kami tidak perlu mengerutkan kening (karena paham) mengapa Anggota Dewan dinaikkan gaji tunjangan laptop rumah dinas mobil dinas. Ya… karena kami paham mereka bekerja lebih giat dibanding perangkat desa. Meraka rapat bukan sekedar rapat (ada juga yanga ngantuk n tidur). Mereka adalah manusia pilihan. Siapa yang memilih mereka? Bukankah orang desa?

Akhirnya ….. kami pun tidak akan cemburu kepada Guru PNS yang hampir tiap tahun naik gaji ada tunjangan fungsional ada sertifikasi (suami istri dapat bahkan). Sebab mereka pendidik dan pahlawan tanpa jasa. Tak ada mereka RI semakin gelap. Bandingkan gedung sekolah dengan gedung desa; fasilitas sekolah denga fasilitas desa. Kita pernah mendengar 2 sekolah dimerger karena suatu sebab. Tapi kita belum pernah mendengar desa dimerger. Andai itu terjadi mungkin jumlah desa di Indonesia lebih kecil dari jumlah provinsi.

Akhirnya…… ketidak adilan ini harus segera berahir. Muliakanlah perangkat desa karena dia ada di bawah. Utamakanlah perangkat desa karena mereka bersentuhan langsung dengan warga. Mulailah membangun dari desa!!! Tak akan ada Indonesia kalau tidak ada desa. Tak akan duduk di kursi DPR MPR kalau tidak dipilih orang desa. Sebab kotak suara mulanya di kumpulkan di desa. Ingatlah terkadang ada warga sempoyongan atau dipapah datang ke TPS hanya untuk menanbah suara Dewan.

Akhirnya…… kita semua harus bertaubat. Taubatan nasuha Taubatan Nasional.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: